Rumah Adat Bali Dibangun Diatas Filosofis

Diposting pada

Bukabukaan.id – Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat beragam yang tersebar pada setiap daerahnya salah satunya adalah rumah adat bali.

Rumah adat bali
Sumber : bing.com/image

Siapa yang tidak mengenal tanah Bali, kekayaan alam yang mempesona serta keindahan budaya adat Bali memikat para wisatawan untuk mengenal Bali lebih dalam.

Meski jaman terus berkembang dengan pesat, namun budaya tetaplah menjadi bagian yang melekat pada Bali.

Rumah adat yang merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari suatu budaya.

Rumah adat dibangun tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, namun juga sebagai wujud aplikasi ketaatan kepada tuhan dan keharmonisan pada sesama.

Salah satunya yakni rumah adat bali, yang memiliki unsur filosofis spiritualitas yang sarat dengan niai-nilai pada agama Hindu.

STRUKTUR RUMAH ADAT BALI

Sumber : bing.com/image

Gapura atau Angkul-Angkul

Saat berkunjung ke rumah adat Bali, hal pertama yang akan dilihat adalah Angkul-Angkul yakni pintu depan yang menjadi akses utama untuk masuk ke dalam rumah adat Bali, setelah memasuki pintu utama, sebelum menuju kedalam area rumah terdapat tembok kecil yang disebut dengan Aling-Aling.

Aling-Aling

Aling-Aling diletakkan tepat dibelakang pintu masuk, sehingga jika ada orang asing yang memasuki rumah tidak dapat langsung melihat keadaan dan aktivitas penghuninya.

Selain fungsi privasi, Aling-Aling juga berfungsi sebagai penyaring atau filter agar energi-energi negatif dari luar rumah tidak bisa masuk kedalam rumah.

Rumah adat Bali dibangun tidak hanya berlandaskan kenyamanan tapi juga memperhitungkan bagaimana spiritualitasnya.

Rumah adat ini juga memiliki unsur filosofis yang sangat melekat pada setiap bagian bangunan, ruangan, dan ornamen yang digunakan.

Hal-hal tersebut tercantum dalam aturan yang diwariskan secara turun temurun disebut dengan Sikut Saka.

Sikut Saka merupakan aturan dalam membangun rumah adat Bali yang berisikan tentang bagaimana arah menghadap suatu ruangan.

Jarak antar ruangan, serta filosofi dari setiap elemen bangunan. Dalam Sikut Saka, rumah adat Bali terbagi menjadi 3 bagian: bagian kepala, bagian tubuh, dan bagian kaki.

Bangunan Sanggah atau Pamejaran

Bagian utama (kepala) pada rumah adat Bali ialah Bangunan Sanggah atau Pamejaran.

Bagian ini memiliki fungsi spiritual dari bangunan rumah yakni sebagai tempat untuk melakukan persembahyangan anggota keluarga baik kepada tuhan maupun penghormatan pada para leluhur.

Bale Menten atau Deja

Sumber : bing.com/image

Bagian badan dari struktur rumah Bali disebut dengan Bale Menten atau Deja. Bale Deja terletak disebelah utara dan ditempati oleh orang yang paling bertanggung jawaban atau tetua dalam mengurus keluarga, didalamnya terdapat ruangan bale lainnya pada kanan dan kirinya.

Bale Gede atau Dangin

Sumber : bing.com/image

Bagunan selanjutnya, Bale Gede atau Dangin yang beperan sebagai badan dari rumah adat ini, terletak disebelah timur. Bale Dangin memiliki fungsi spiritual yang kuat dari bangunan rumah.

Bale Dangin ini biasa digunakan untuk melaksanakan upacara Adat kemanusiaan, seperti 3 bulanan, potong gigi, pernikahan, dan kematian dari anggota keluarga. Bale Gede biasanya didesain terlihat artistik mewah dibandingkan bangunan lainnya.

Bale Dauh

Bagian badan dari rumah Bali selanjutnya adalah Bale Dauh terletak disebelah barat dari banguan rumah Bali, yang digunakan sebagai tempat tinggal dari generasi penerus.

Bagunan ini memiliki tinggi permukaan yang lebih rendah dari pada banguan Bale Dauh, hal ini mengisyaratkan  kewajiban generasi muda untuk menghormati tetua.

Selain itu bangunan juga berfungsi sebagai tempat menerima tamu dan berdiskusi anggota keluarga ketika menghadapi suau permasalahan.

Bale Sekapat

Berbeda dengan bangunan lainnya, Bale Sekapat memiliki struktur bangunan yang mirip dengan gazebo.

Strukrurnya sangat sederhana, hanya memiliki empat tiang penyangga, atapnya terbuat dari genteng atau juga jerami.

Bangunan ini berfungsi untuk beristirahat dan tempat berkumpul keluarga.

Paon

Sumber : bing.com/image

Selanjutnya, Paon atau dapur yang terletak disebelah selatan. Paon tidak lain berfungsi sebagai tempat untuk memasak.

Selain itu Paon juga menjadi tempat tinggal tetua yang sudah tidak lagi tinggal di Bale Deja. Ruangan yang tertutup dan dekat perapian sangat berguna untuk menghangatkan tubuh.

Paon terbagi menjadi 2 area atau ruangan, ruangan terbuka dan tertutup. Ruangan terbuka digunakan untuk memasak dengan kayu bakar sedangkan ruangan lainnya digunakan untuk menyimpan peralatan memasak.

Sumber : bing.com/image

Bangunan terakhir pada bangunan rumah adat Bali ialah Lumbung. Lumbung merupakan tempat untuk menyimpan bahan makanan pokok seperti padi dll.

 MATERIAL BANGUNAN

Penggunaan material yang digunakan dalam membangun rumah adat ini tidak ditentukan untuk disamaratakan. Bahan yang digunakan menyesuaikan dengan kemampuan ekonomi pemiliknya.

Pada umumnya bagi masyarakat biasa, menggunakan speci yang terbuat dari tanah liat untuk membangun bangunan rumah, Sedangkan kaum bangsawan, biasanya menggunakan batu bata.

Atap bangunan pada umumnya terbuat dari genting tanah, alang-alang, dan sejenisnya.

PROSES PEMBANGUNAN RUMAH

Proses pembangunan rumah adat Bali melalui rangkaian proses yang cukup panjang, dimulai dengan mengukur tanah, dilanjut dengan ritual persembahan hewan qurban dan permohonan izin kepada para leluhur untuk membangun rumah, proses pembangunan rumah, setelah proses pembangunan rumah selesai ditutup dengan uparaca syukuran.

Penempatan bangunan ruangan dalam rumah adat sudah diatur dalam tatanan adat Bali. Bangunan yang terletak disudut utara dan timur merupakan tempat yang disucikan, maka pada posisi ini diletakkan tempat untuk bersembahyang.

Sedangkan sudut barat dan selatan memiliki kesucian yang lebih rendah yakni kamar mandi, tempat berjemur, dapur, lumbung, dan sebagainya. Perancang bangunan rumah adat Bali disebut dengan Udagi.

Nah, demikian penjelasan mengenai rumah adat Bali yang memiliki makna begitu dalam tidak hanya mementingkan bagi kenyamanan tapi juga mengutamakan unsur spiritualitas dalam melestaikan budaya. Semoga bermanfaat 🙂